Logo SMAIT AL MADINAH
Login

Ketika Robot Bisa Berkarya, Apa yang Tersisa dari Manusia?

Diterbitkan pada 2026-09-07 - Oleh PIDP, Sutjihana Andinisari,S.H, M.Pd., dan Admin Website


Ketika Robot Bisa Berkarya, Apa yang Tersisa dari Manusia?

Di zaman ketika mesin mampu menggambar, menulis musik, membuat video, bahkan menciptakan puisi dalam hitungan detik, mungkin sudah waktunya kita bertanya kembali: untuk apa manusia belajar seni?

Bayangkan seorang siswa duduk di depan computer, mengetik sebuah perintah: “Buatkan lukisan tentang kesepian seorang anak di tengah keramaian.” Beberapa detik kemudian, sebuah gambar muncul. Indah. Dramatis. Sempurna. Lalu ia mengetik perintah lain: “Buatkan musik yang menggambarkan kerinduan.” Musik pun tercipta. Tidak ada kanvas yang harus disiapkan. Tidak ada kuas yang harus dicuci. Tidak ada latihan berjam-jam. Tidak ada jari yang pegal memainkan alat musik. Tidak ada rasa gugup sebelum tampil di panggung. Semuanya begitu mudah.

Lalu, apa yang tersisa dari manusia?

Pertanyaan ini terasa semakin relevan ketika kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) berkembang begitu cepat. AI mampu menghasilkan karya yang secara teknis mengagumkan. Ia dapat membantu manusia menggambar, menulis, membuat musik, mengolah video, bahkan memberikan berbagai alternatif ide kreatif. Namun, ada satu hal yang membuat pendidikan seni tidak pernah kehilangan relevansinya: Seni adalah tentang siapa yang mengalami proses penciptaannya.

Seni Mengajarkan Pengalaman, Bukan Sekadar Produk

Di SMA Islam Terpadu Al Madinah yang merupakan Sekolah terbaik, sekolah Islami, dan sekolah unggulan, pembelajaran Seni Budaya berusaha menghadirkan pengalaman nyata tersebut. Siswa tidak hanya mempelajari seni dari buku (karena memang buku seni untuk siswa, sudah lama tidak ada hehe…). Mereka mengalaminya, menari, bermain music dan drama, menggambar, melukis, mendesain, serta menciptakan karya.

Mereka berlatih, melakukan kesalahan, merasa malu, tertawa, kecewa, mencoba kembali, lalu merasakan kebahagiaan ketika akhirnya mampu menghasilkan sesuatu. Dalam tari, siswa belajar bahwa tubuh dapat menjadi bahasa. Gerakan bukan sekadar rangkaian teknik, tetapi cara menyampaikan rasa dan makna. Dalam musik, mereka belajar mendengarkan. Mereka memahami bahwa sebuah lagu tidak akan menjadi indah jika setiap orang hanya ingin terdengar paling keras. Mereka belajar harmoni, keseimbangan, disiplin, dan kolaborasi. Dalam drama, mereka belajar memasuki dunia orang lain. Mereka mencoba memahami tokoh yang berbeda dari dirinya—merasakan ketakutannya, kemarahannya, harapannya, bahkan luka yang tidak pernah mereka alami sendiri. Drama mengajarkan empati dengan cara yang sangat manusiawi. Dalam seni rupa, mereka belajar bahwa tidak semua karya harus sama. Dua siswa dapat melihat objek yang sama dan menghasilkan karya yang berbeda. Dan perbedaan itu bukan kesalahan. Justru di situlah kreativitas tumbuh.

AI dapat membuat gambar tentang kesedihan. Tetapi AI tidak pernah benar-benar merasakan kehilangan. AI dapat membuat musik tentang kerinduan. Tetapi AI tidak pernah menunggu seseorang pulang. AI dapat menulis naskah tentang persahabatan. Tetapi AI tidak pernah mengalami persahabatan. Inilah perbedaan mendasar antara kecerdasan buatan dan manusia. Manusia mencipta dengan membawa pengalaman hidupnya. Ketika seorang siswa membuat sebuah karya, ia membawa seluruh dunianya: keluarga, persahabatan, kegagalan, kebahagiaan, budaya, lingkungan, impian, bahkan luka-luka kecil yang mungkin tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun. Semua itu dapat menjelma menjadi warna, gerakan, suara, dialog, atau sebuah karya. Itulah jiwa dalam seni.

Justru Karena Ada AI, Seni Harus Semakin Hidup

UNESCO dalam panduannya mengenai generative AI di bidang pendidikan menekankan pentingnya pendekatan yang berpusat pada manusia. Teknologi seharusnya membantu proses pendidikan, bukan menghilangkan kreativitas, orisinalitas, interaksi, dan agensi manusia. Pesannya sederhana: Gunakan teknologi, tetapi jangan kehilangan kemanusiaan.

Bahkan dunia kerja masa depan membutuhkan kreativitas. World Economic Forum melalui Future of Jobs Report 2025 menempatkan creative thinking sebagai salah satu keterampilan penting yang semakin dibutuhkan di tengah perubahan teknologi.

Maka, pelajaran seni bukan pelajaran "tambahan" yang dapat dengan mudah disingkirkan ketika teknologi semakin maju. Justru sebaliknya. Semakin pintar mesin, semakin penting manusia belajar menjadi kreatif. Seni adalah ruang untuk menjadi manusia. Itulah mengapa pembelajaran Seni Budaya di SMA Islam Terpadu Al Madinah tidak berhenti pada teori dan hasil akhir. Yang dihargai bukan hanya pertunjukan yang sempurna, tetapi juga keberanian untuk mencoba. Seni menjadi ruang di mana siswa boleh mencoba, salah, berbeda, bereksperimen, dan menemukan dirinya. Karena pendidikan tidak seharusnya hanya menghasilkan anak yang mampu menjawab pertanyaan. Pendidikan harus melahirkan manusia yang mampu merasakan pertanyaan, memikirkan jawabannya, dan menciptakan sesuatu yang bermakna.

Mungkin suatu hari AI akan mampu menghasilkan karya yang jauh lebih indah daripada karya manusia. Mungkin ia akan mampu menciptakan musik yang sangat menyentuh. Mungkin ia akan mampu menulis cerita yang membuat kita menangis. Tetapi tetap ada satu hal yang tidak boleh kita serahkan kepada mesin: kemampuan manusia untuk mengalami kehidupan.

Bukan karena teknologi harus ditolak. Tetapi karena manusia harus tetap memiliki pengalaman nyata sebagai manusia. Sebab mungkin tantangan terbesar pendidikan di era AI bukan membuat manusia lebih hebat daripada robot. Tantangan terbesar kita adalah memastikan manusia tidak menjadi seperti robot.

Dan seni adalah salah satu jalan untuk menjaganya. seni mengajarkan kita untuk tetap menjadi manusia.

Referensi pendukung

  • UNESCO – Guidance for Generative AI in Education and Research: menekankan pendekatan pendidikan yang berpusat pada manusia dan mengingatkan risiko AI terhadap kreativitas, orisinalitas, interaksi nyata, serta ekspresi yang beragam.
  • UNESCO – Cultural Education in the AI Era: Training the Talents of Tomorrow: menegaskan perlunya menjaga kreativitas manusia sebagai unsur esensial sekaligus membangun literasi AI dalam pendidikan seni dan budaya.
  • World Economic Forum – Future of Jobs Report 2025: menunjukkan bahwa creative thinking termasuk keterampilan inti yang sangat penting dan diproyeksikan semakin relevan dalam dunia kerja yang semakin terdigitalisasi.

“ Almadinah…Bergerak Juara!

Almadinah...Bergerak juara!

Almadinah...Bermanfaat! Bermartabat! “

 

Follow instagram kami di @smait_almadinah

Youtube : @almadinahTv

 

For more info :

📞 0822-9928-3288

🔗 https://pmbsit.almadinahbogor.sch.id

Website : almadinahbogor.sch.id

 

#sitalmadinahcibinong

#sekolahislamfavorit

#sekolahislamterbaik

#sekolahswastaunggulan

#almadinahberkarakter

#sekolahramahanak

#bergerakjuara

 

Bottom of Form

 

Brosur
Banner