SMAIT AL MADINAH
Diterbitkan pada 2026-10-07 - Oleh PIDP, Melly Kurniasih, S.Pd., dan Admin Website
Perubahan zaman membawa perubahan pada cara
siswa berinteraksi, belajar, dan memandang sosok guru. Generasi Z tumbuh di
tengah perkembangan teknologi dan media sosial yang membuat mereka terbiasa
memperoleh informasi dengan cepat, menyampaikan pendapat secara terbuka, serta
memiliki kebutuhan yang besar untuk didengar dan dihargai. Kondisi ini menjadi
tantangan tersendiri bagi guru dalam membangun kedisiplinan di kelas.
Di tengah perubahan tersebut, masih ada
anggapan bahwa guru yang disegani adalah guru yang keras, sering memarahi
siswa, atau mampu membuat siswa merasa takut. Padahal, rasa takut tidak selalu
menghasilkan rasa hormat. Siswa mungkin mematuhi aturan ketika guru berada di
depan mereka, tetapi belum tentu memahami alasan di balik aturan tersebut.
Guru masa kini perlu mengubah pendekatan:
bukan berusaha membuat siswa takut, tetapi membangun rasa hormat melalui
ketegasan, keteladanan, dan komunikasi yang positif.
Tegas Bukan Berarti Keras
Ketegasan merupakan kemampuan guru dalam
menetapkan batasan, menyampaikan aturan dengan jelas, serta konsisten terhadap
konsekuensi yang telah disepakati. Ketegasan tidak harus disampaikan melalui
suara keras atau hukuman yang membuat siswa malu.
Guru dapat tetap tegas dengan menggunakan
komunikasi yang tenang. Misalnya, ketika siswa berbicara saat pembelajaran
berlangsung, guru dapat mengatakan:
“Ibu memahami kalian ingin berdiskusi,
tetapi sekarang waktunya mendengarkan penjelasan. Silakan lanjutkan pembicaraan
setelah pembelajaran selesai.”
Kalimat tersebut menunjukkan bahwa guru
memiliki batasan yang jelas, tetapi tetap menghargai siswa. Inilah bentuk
ketegasan yang lebih relevan dengan karakter siswa saat ini.
Siswa Gen Z Ingin Didengar, Bukan Hanya
Diperintah
Salah satu hal penting dalam menghadapi
siswa Gen Z adalah memberikan ruang untuk menyampaikan pendapat. Mereka
cenderung lebih mudah menerima aturan ketika memahami alasan dan tujuan di
balik aturan tersebut.
Karena itu, guru tidak hanya mengatakan, “Pokoknya
harus seperti ini karena Ibu/Bapak gurunya.” Sebaliknya, guru dapat
menjelaskan alasan sebuah aturan dibuat.
Misalnya:
“Di kelas kita ada aturan tidak menggunakan
ponsel saat guru menjelaskan. Bukan karena Ibu melarang kalian menggunakan
teknologi, tetapi supaya perhatian kita tidak terbagi dan kalian bisa memahami
materi dengan maksimal.”
Pendekatan tersebut mengubah hubungan guru
dan siswa dari sekadar “yang memerintah dan yang diperintah”
menjadi hubungan yang saling memahami.
Konsisten Lebih Efektif daripada Menakutkan
Ketegasan tidak akan berarti jika aturan
hanya diterapkan sesekali. Guru perlu konsisten dalam menjalankan aturan yang
telah dibuat.
Jika seorang siswa terlambat mendapatkan
konsekuensi, sementara siswa lain yang melakukan kesalahan yang sama dibiarkan,
siswa dapat melihat adanya ketidakadilan. Oleh karena itu, aturan sebaiknya
berlaku untuk semua siswa tanpa membedakan siswa yang berprestasi, aktif, dekat
dengan guru, maupun yang sering melakukan kesalahan.
Konsistensi melahirkan kepercayaan,
sedangkan ketidakadilan melahirkan resistensi.
Guru tidak harus selalu mengawasi siswa
agar mereka menaati aturan. Ketika aturan telah dipahami dan diterapkan secara
konsisten, siswa perlahan akan belajar mengatur dirinya sendiri.
Berikan Konsekuensi, Bukan Sekadar Hukuman
Ketika siswa melakukan kesalahan, guru
tentu perlu memberikan konsekuensi. Namun, konsekuensi sebaiknya memiliki nilai
pendidikan dan membantu siswa memahami tanggung jawabnya.
Misalnya, siswa yang tidak mengerjakan
tugas tidak hanya dimarahi di depan kelas. Guru dapat meminta siswa
menyelesaikan tugas tersebut dalam waktu tertentu dan memberikan kesempatan
untuk menjelaskan kendalanya.
Begitu pula ketika siswa membuat kelas
berantakan. Daripada hanya memberikan hukuman, guru dapat meminta siswa bertanggung
jawab dengan membantu merapikan kelas.
Dengan demikian, siswa belajar bahwa setiap
tindakan memiliki konsekuensi, bukan sekadar belajar menghindari kemarahan
guru.
Teguran pada Perilakunya, Bukan Menyerang
Pribadinya
Salah satu kesalahan yang sering terjadi
ketika guru sedang marah adalah memberikan label kepada siswa.
Kalimat seperti
“Kamu memang anak malas.
“Kamu selalu membuat masalah.”
“Kamu memang tidak bisa diatur.”
dapat membuat siswa merasa dirinya tidak
dihargai. Guru dapat mengubahnya menjadi kalimat yang berfokus pada perilaku:
“Tugasmu belum selesai. Apa kendalanya?”
“Perilaku tersebut mengganggu proses
pembelajaran. Mari kita perbaiki.”
“Ibu berharap setelah ini kamu bisa
mengikuti aturan yang sudah disepakati.”
Perbedaannya sederhana, tetapi dampaknya
besar. Guru tetap memberikan teguran tanpa menjatuhkan harga diri siswa.
Jadilah Guru yang Konsisten antara
Perkataan dan Perbuatan
Siswa tidak hanya belajar dari apa yang
disampaikan guru, tetapi juga dari apa yang mereka lihat. Guru yang meminta
siswa datang tepat waktu, misalnya, juga perlu berusaha menunjukkan keteladanan
dalam menghargai waktu.
Guru yang meminta siswa berbicara dengan
sopan juga perlu menunjukkan komunikasi yang santun ketika menghadapi siswa
yang melakukan kesalahan.
Keteladanan membuat nasihat guru memiliki
kekuatan yang lebih besar. Siswa akan lebih mudah menghormati guru yang
menjalankan nilai yang sama dengan yang ia ajarkan.
Membangun Wibawa Tanpa Menciptakan Jarak
Guru tetap perlu memiliki wibawa, tetapi
wibawa tidak harus dibangun dengan menciptakan jarak yang terlalu jauh dengan
siswa. Guru dapat bersikap ramah, mendengarkan cerita siswa, bahkan bercanda
dalam situasi tertentu, tanpa kehilangan batas profesional.
Kuncinya adalah mengetahui kapan harus
hangat dan kapan harus tegas.
Saat siswa membutuhkan dukungan, guru hadir
sebagai pendengar. Saat siswa melakukan kesalahan, guru hadir sebagai
pembimbing. Saat aturan dilanggar, guru hadir sebagai sosok yang konsisten.
Inilah keseimbangan antara “guru
yang dekat” dan “guru yang tetap memiliki batas.”
Dari Takut Menjadi Hormat
Guru yang ditakuti mungkin mampu membuat
kelas diam. Namun, guru yang dihormati mampu membuat siswa tetap berperilaku
baik meskipun guru tidak berada di dalam kelas.
Perbedaannya terletak pada alasan siswa
menaati aturan.
Jika siswa patuh karena takut dimarahi,
kedisiplinan mungkin hanya muncul ketika ada pengawasan. Namun, jika siswa
patuh karena memahami nilai, aturan, dan tanggung jawab, maka akan tumbuh
kesadaran dari dalam diri.
Karena itu, tujuan guru bukan sekadar
menciptakan kelas yang tenang, tetapi menciptakan siswa yang mampu
mengendalikan diri, bertanggung jawab, dan menghargai orang lain.
Kesimpulan
Menjadi guru di era Gen Z membutuhkan lebih
dari sekadar kemampuan menguasai materi. Guru perlu memiliki kemampuan
berkomunikasi, memahami karakter siswa, menetapkan batasan, dan membangun
hubungan yang sehat.
Guru tidak harus menjadi sosok yang paling
ditakuti di sekolah. Jadilah guru yang tegas dalam prinsip, adil dalam aturan,
hangat dalam komunikasi, dan konsisten dalam keteladanan.
Sebab pada akhirnya, siswa mungkin lupa
pada teguran yang pernah diberikan guru, tetapi mereka akan mengingat bagaimana
gurunya membuat mereka merasa dihargai dan dibimbing.
Guru yang hebat bukanlah guru yang membuat
siswa takut ketika melakukan kesalahan, melainkan guru yang membuat siswa
berani memperbaiki kesalahan dan menjadi pribadi yang lebih baik.
Tegas dalam aturan, hangat dalam
pendekatan, dan kuat dalam keteladanan—itulah guru yang bukan hanya ditakuti,
tetapi dihormati.
“ Almadinah…Bergerak
Juara!
Almadinah...Bergerak
juara!
Almadinah...Bermanfaat!
Bermartabat! “
Follow instagram kami
di @smait_almadinah
Youtube : -
@almadinahTv
- @SMA IT Al-Madinah
For more info :
📞 0822-9928-3288
🔗 https://pmbsit.almadinahbogor.sch.id
Website :
almadinahbogor.sch.id
#sitalmadinahcibinong
#sekolahislamfavorit
#sekolahislamterbaik
#sekolahswastaunggulan
#almadinahberkarakter
#sekolahramahanak
#bergerakjuara