SMAIT AL MADINAH
Diterbitkan pada 2026-10-19 - Oleh PIDP, Sutjihana Andinisari,S.H, M.Pd., dan Admin Website
Mengikuti
Sangitaloka, Festival Musik Tradisional Indonesia, menjadi pengalaman berharga
untuk menyelami kembali kekayaan musik tradisional Nusantara. Kehadiran saya
sebagai salah satu perwakilan MGMP Seni Budaya Kabupaten Bogor membawa pulang
bukan hanya pengetahuan baru, tetapi juga refleksi tentang pentingnya
mewariskan budaya kepada generasi muda.
Sabtu, 3 Oktober
2026, saya berkesempatan mengikuti Sangitaloka, Festival Musik Tradisional
Indonesia bertajuk Bambu dan Bunyi Ritus, yang diselenggarakan di Gedung
Serba Guna 1 SETDA Kabupaten Bogor. Kegiatan ini menjadi ruang belajar yang
memperkaya perspektif tentang musik tradisional, khususnya keterkaitan antara
bambu, bunyi, ritus, dan kehidupan masyarakat Sunda.
Tiga pemateri
menghadirkan sudut pandang yang saling melengkapi. Hudaepah, S.Th.I., M.Hum.,
dosen ISBI Bandung, membahas “Musik Bambu dalam Ritus Masyarakat Sunda: Fungsi
Ritual, Simbolik, dan Strategi Konservasi melalui Pendidikan Formal dan
Nonformal.” Paparan ini mengingatkan saya bahwa musik tradisional bukan sekadar
hiburan. Di dalamnya terdapat nilai simbolik, fungsi ritual, serta jejak
kehidupan masyarakat yang perlu dipahami dan dilestarikan. Pendidikan formal
maupun nonformal memiliki peran penting agar pengetahuan tersebut tidak
terputus oleh perubahan zaman.
Perspektif sejarah
dihadirkan Ilham Nurwansah melalui materi “Jejak Musik Instrumental dalam
Naskah Sunda Kuno.” Dari pembahasan ini, kita diajak melihat bahwa kekayaan
musik masa lalu tidak hanya diwariskan melalui praktik dan pertunjukan, tetapi
juga dapat ditelusuri melalui naskah-naskah kuno. Dokumentasi dan kajian
terhadap sumber sejarah menjadi bagian penting dalam memahami perjalanan
kebudayaan Sunda.
Sementara itu, Dody
Satya Ekagustdiman melalui materi “Bambu, Seni Bunyi, Ritus, dan Kesadaran
Paramalenyep Sunda Nusantara” mengajak peserta memandang bambu dan bunyi dalam
cakrawala kebudayaan yang lebih luas. Bambu bukan hanya bahan pembuat alat
musik, melainkan juga medium ekspresi yang memiliki hubungan dengan alam,
tradisi, dan kesadaran budaya masyarakat.
Sebagai pendidik yang berkecimpung dalam bidang
Seni Budaya, saya merasa pengalaman ini memberikan banyak bahan refleksi.
Bagaimana menghadirkan musik tradisional agar tidak berhenti sebagai materi
dalam buku pelajaran? Bagaimana membuat siswa bukan hanya mengenal nama alat
musik, tetapi juga memahami nilai, sejarah, dan filosofi yang menyertainya?
Pertanyaan-pertanyaan
tersebut menjadi oleh-oleh yang ingin saya bawa ke lingkungan SMA IT Al
Madinah. Pelestarian budaya perlu dimulai dari ruang-ruang belajar, melalui
pembelajaran yang kontekstual, pengalaman berkesenian, eksplorasi bunyi, serta
pengenalan tradisi lokal yang dekat dengan kehidupan siswa.
Dari Sangitaloka,
saya kembali diingatkan bahwa melestarikan musik tradisional bukan sekadar
menjaga bunyinya tetap terdengar, melainkan memastikan makna dan nilai di
baliknya tetap dipahami oleh generasi penerus.
Bambu mungkin
tumbuh sederhana, tetapi bunyinya menyimpan cerita panjang tentang manusia,
alam, dan peradaban. Tugas kita sebagai pendidik adalah membantu cerita itu
terus hidup—dari panggung festival menuju ruang kelas, dari pengetahuan menjadi
pengalaman, dan dari warisan masa lalu menjadi inspirasi bagi masa depan.
“
Almadinah…Bergerak Juara!
Almadinah...Bergerak
juara!
Almadinah...Bermanfaat!
Bermartabat! “
Follow
instagram kami di @smait_almadinah
Youtube : -
@almadinahTv
- @SMA IT Al-Madinah
For more info :
📞 0822-9928-3288
🔗
https://pmbsit.almadinahbogor.sch.id
Website :
almadinahbogor.sch.id
#sitalmadinahcibinong
#sekolahislamfavorit
#sekolahislamterbaik
#sekolahswastaunggulan
#almadinahberkarakter
#sekolahramahanak
#bergerakjuara