Logo SMAIT AL MADINAH
Login

ADAB SEBELUM ILMU: MENGAPA KEDUANYA HARUS BERJALAN BERSAMA?

Diterbitkan pada 2026-09-29 - Oleh PIDP, Eva Fauziah, M.Pd., dan Admin Website


ADAB SEBELUM ILMU: MENGAPA KEDUANYA HARUS BERJALAN BERSAMA?

Bismillahirrahmanirrahim

Ada orang yang semakin banyak ilmunya, semakin rendah hatinya. Namun, ada pula yang semakin banyak mengetahui, semakin mudah meremehkan orang lain.

Ada yang rajin membaca, banyak berdiskusi, mampu menjelaskan berbagai persoalan, bahkan menguasai banyak dalil. Tetapi di saat yang sama, lisannya mudah menyakiti, hatinya sulit menerima nasihat, dan ilmunya justru menjadi alasan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain.

Di sinilah kita memahami bahwa ilmu dan adab tidak seharusnya dipisahkan. Ilmu memang mengangkat derajat seseorang. Namun, tanpa adab, ilmu dapat kehilangan arah. Sebaliknya, adab yang tidak dibimbing oleh ilmu juga dapat membuat seseorang melakukan kebaikan dengan cara yang keliru.

Para ulama terdahulu sangat memahami hal ini. Mereka tidak hanya mengajarkan bagaimana memperoleh ilmu, tetapi juga bagaimana menempatkan diri di hadapan ilmu.

Imam Malik rahimahullah pernah memberikan nasihat yang sangat terkenal kepada seorang pemuda Quraisy:

“Pelajarilah adab sebelum kamu mempelajari ilmu.”

Pesan ini bukan berarti adab lebih penting daripada ilmu atau ilmu tidak diperlukan. Justru sebaliknya, pesan tersebut menunjukkan bahwa ilmu dan adab merupakan dua hal yang saling melengkapi dalam membentuk manusia yang baik.

 

Ketika Ilmu Tidak Lagi Membentuk Akhlak

Ilmu adalah sesuatu yang mulia. Dengannya manusia dapat memahami kehidupan, membedakan yang benar dan yang salah, menemukan solusi atas berbagai persoalan, serta mengenal kebesaran Allah SWT.

Namun, ilmu pada akhirnya akan dinilai dari bagaimana ia memberi pengaruh kepada kehidupan.

Seseorang dapat mengetahui banyak hal tentang kesabaran, tetapi mudah marah. Dapat menjelaskan tentang kejujuran, tetapi masih suka berbohong. Dapat berbicara tentang rendah hati, tetapi sulit menerima kritik.

Pengetahuan yang hanya berhenti di pikiran belum tentu menghasilkan perubahan dalam diri.

Bahkan, ilmu yang tidak disertai adab dapat menjadi sumber kesombongan. Seseorang merasa paling benar hanya karena mengetahui lebih banyak. Perbedaan pendapat berubah menjadi pertengkaran. Diskusi tidak lagi menjadi jalan mencari kebenaran, tetapi menjadi ajang menunjukkan siapa yang paling unggul.

Pada titik inilah ilmu yang seharusnya menjadi cahaya justru dapat digunakan dengan cara yang keliru.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
(HR. Ahmad)

Hadis tersebut mengingatkan bahwa akhlak memiliki kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan seorang Muslim.

Karena itu, semakin tinggi ilmu seseorang, semestinya semakin baik pula akhlaknya.

Ilmu seharusnya membuat seseorang lebih takut kepada Allah, bukan lebih sombong di hadapan manusia.

 

Adab Tanpa Ilmu Juga Tidak Cukup

Namun, kita juga perlu memahami sisi yang lain.

Menjadi orang yang santun dan memiliki niat baik saja belum cukup apabila tidak dibarengi dengan ilmu.

Niat yang baik tidak selalu menghasilkan tindakan yang benar.

Seseorang mungkin ingin membantu orang lain, tetapi karena tidak mengetahui cara yang tepat, bantuannya justru menimbulkan masalah. Seseorang mungkin ingin mengingatkan orang lain dalam urusan agama, tetapi karena tidak memahami persoalannya dengan baik, nasihat yang disampaikan justru keliru.

Karena itu, kebaikan membutuhkan ilmu agar memiliki arah.

Ilmu mengajarkan kepada kita apa yang benar, sedangkan adab mengajarkan kepada kita bagaimana menyampaikan dan mengamalkan kebenaran tersebut dengan cara yang baik.

Dengan ilmu, kita mengetahui jalan yang harus ditempuh.

Dengan adab, kita belajar bagaimana berjalan di atasnya.

Keduanya tidak saling menggantikan, tetapi saling menyempurnakan.

 

lmu Seharusnya Membuat Kita Semakin Rendah Hati

Salah satu tanda bahwa ilmu memberikan pengaruh yang baik adalah tumbuhnya kerendahan hati.

Semakin seseorang belajar, seharusnya semakin ia menyadari bahwa pengetahuannya masih terbatas.

Kita mungkin mengetahui satu hal yang tidak diketahui orang lain, tetapi orang lain bisa saja mengetahui sesuatu yang belum kita pahami. Karena itu, ilmu tidak seharusnya menjadi alasan untuk merendahkan orang lain.

Perbedaan pemahaman tidak selalu harus berakhir dengan saling menyalahkan. Perbedaan pendapat dapat menjadi kesempatan untuk belajar, selama disikapi dengan ilmu dan adab.

Orang yang berilmu tidak harus selalu menjadi orang yang paling banyak berbicara.

Terkadang, justru kemampuan untuk mendengarkan merupakan bagian dari kedalaman ilmu.

Terkadang, mengatakan “Saya belum tahu” merupakan bentuk kejujuran ilmiah.

Dan terkadang, memilih diam daripada berbicara tanpa dasar merupakan bentuk adab terhadap ilmu.

 

Mengapa Ilmu dan Adab Harus Berjalan Bersama?

Allah SWT berfirman:

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”
(QS. Al-Mujadalah: 11)

Ayat ini menunjukkan kemuliaan iman dan ilmu. Namun, ilmu tidak seharusnya hanya menjadi sesuatu yang kita kumpulkan. Ilmu harus membawa perubahan dalam diri dan memberikan manfaat bagi kehidupan.

Tujuan belajar bukan sekadar mendapatkan nilai, gelar, jabatan, atau pengakuan manusia.

Lebih jauh daripada itu, ilmu seharusnya membantu manusia menjalankan amanahnya sebagai hamba Allah dan memberikan manfaat bagi sesama.

Karena itu, ilmu dan adab perlu berjalan bersama setidaknya dalam beberapa hal.

 

Pertama, agar ilmu menjadi berkah.

Ilmu yang bermanfaat bukan hanya membuat seseorang mengetahui lebih banyak, tetapi membuatnya menjadi pribadi yang lebih baik.

Ia menjadi lebih jujur karena memahami pentingnya kejujuran. Ia menjadi lebih bertanggung jawab karena mengetahui konsekuensi dari setiap perbuatannya. Ia semakin menghargai orang lain karena memahami bahwa setiap manusia memiliki kehormatan.

 

Kedua, agar ilmu melahirkan keteladanan.

Orang mungkin lupa dengan apa yang pernah kita katakan, tetapi mereka sering mengingat bagaimana kita memperlakukan mereka.

Seorang guru bukan hanya mengajarkan materi, tetapi juga menunjukkan bagaimana menghormati orang lain.

Seorang pemimpin bukan hanya membutuhkan pengetahuan, tetapi juga membutuhkan kejujuran dan tanggung jawab.

Begitu pula seorang pelajar. Ia tidak cukup hanya mengejar prestasi, tetapi juga perlu belajar menghargai guru, menghormati teman, menjaga amanah, dan menggunakan ilmunya dengan benar.

 

Ketiga, agar ilmu memberikan manfaat.

Ilmu yang baik tidak berhenti pada diri sendiri.

Ia semestinya memberikan manfaat bagi keluarga, masyarakat, dan lingkungan.

Semakin banyak yang kita ketahui, semakin besar pula tanggung jawab kita untuk menggunakan pengetahuan tersebut dengan bijaksana.

Sebab, ilmu bukan sekadar amanah untuk diketahui, tetapi juga amanah untuk diamalkan.

 

Adab dalam Perjalanan Menuntut Ilmu

Adab dalam menuntut ilmu sebenarnya tidak selalu berupa sesuatu yang besar. Ia justru sering terlihat dari kebiasaan-kebiasaan sederhana.

Kita belajar dengan niat yang benar karena Allah SWT.

Kita menghormati guru dan orang yang menyampaikan ilmu kepada kita.

Kita mau mendengarkan sebelum berbicara.

Kita tidak malu bertanya ketika belum memahami sesuatu.

Kita tidak merasa rendah ketika mengakui ketidaktahuan.

Kita tidak menggunakan ilmu untuk mempermalukan orang lain.

Kita tidak menjadikan perbedaan pendapat sebagai alasan untuk saling merendahkan.

Dan yang tidak kalah penting, kita berusaha mengamalkan ilmu yang telah dipelajari.

Sebab, ilmu yang hanya disimpan dalam ingatan tanpa pernah diwujudkan dalam perbuatan akan kehilangan salah satu tujuan terpentingnya.

 

 

Jangan Hanya Mengejar Menjadi Pintar

Di zaman ketika informasi begitu mudah diperoleh, menjadi tahu bukan lagi sesuatu yang sulit.

Kita dapat membaca berbagai buku, mengikuti berbagai kajian, menonton video pembelajaran, berdiskusi di media sosial, dan memperoleh informasi hanya dalam hitungan detik.

Namun, banyaknya informasi tidak otomatis menjadikan seseorang bijaksana.

Di tengah derasnya informasi, kita justru membutuhkan kemampuan untuk memilih, memahami, menyaring, dan menggunakan pengetahuan dengan benar.

Di sinilah adab kembali memiliki peran penting.

Adab mengajarkan kita untuk tidak tergesa-gesa menyimpulkan.

Adab mengajarkan kita untuk menghormati orang lain.

Adab mengajarkan kita untuk memeriksa kebenaran sebelum menyebarkan informasi.

Adab mengajarkan kita bahwa tidak semua hal yang kita ketahui harus kita gunakan untuk memenangkan perdebatan.

Dan adab mengingatkan bahwa memiliki ilmu bukan berarti memiliki hak untuk merendahkan orang lain.

 

Pada Akhirnya, Apa yang Dilakukan dengan Ilmu Kita?

Kita semua sedang belajar.

Ada yang belajar melalui sekolah dan perguruan tinggi. Ada yang belajar melalui buku, guru, pengalaman, perjalanan hidup, maupun berbagai peristiwa yang terjadi di sekeliling kita.

Namun, perjalanan belajar tidak seharusnya berhenti pada pertanyaan:

“Berapa banyak yang sudah saya ketahui?”

Kita juga perlu bertanya:

“Apa yang telah ilmu itu ubah dalam diri saya?”

Apakah ilmu membuat kita semakin dekat kepada Allah?

Apakah ilmu membuat kita semakin menghargai orang lain?

Apakah ilmu membuat kita semakin rendah hati?

Apakah ilmu membuat kita semakin bertanggung jawab?

Dan yang paling penting, apakah ilmu yang kita miliki telah memberikan manfaat?

Sebab, ukuran keberhasilan dalam menuntut ilmu bukan hanya seberapa banyak yang berhasil kita kumpulkan, tetapi juga seberapa besar ilmu itu mampu membentuk diri kita dan memberikan manfaat bagi orang lain.

Maka, jangan memilih antara ilmu atau adab. Kita membutuhkan keduanya.

Ilmu tanpa adab dapat kehilangan arah. Adab tanpa ilmu dapat kehilangan pijakan.
Namun ilmu yang dibingkai adab dapat melahirkan kebijaksanaan.

Mari terus belajar, tetapi jangan berhenti memperbaiki akhlak.

Mari mengejar prestasi, tetapi jangan kehilangan kerendahan hati.

Mari memperluas wawasan, tetapi tetap menjaga adab dalam berbicara dan bersikap.

Dan ketika ilmu kita semakin bertambah, semoga hati kita justru semakin lembut, langkah kita semakin bijaksana, dan manfaat kita bagi sesama semakin luas.

Semoga Allah SWT menjadikan kita orang-orang yang berilmu sekaligus beradab; menjadikan ilmu yang kita pelajari sebagai ilmu yang bermanfaat; serta memberikan kemampuan kepada kita untuk mengamalkan ilmu tersebut dengan penuh keikhlasan.

“Ya Allah, tambahkanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat, amal yang saleh, hati yang rendah hati, dan akhlak yang mulia.”

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

 

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

 

“ Almadinah…Bergerak Juara!

Almadinah...Bergerak juara!

Almadinah...Bermanfaat! Bermartabat! “

 

Follow instagram kami di @smait_almadinah

Youtube : @almadinahTv

 

For more info :

📞 0822-9928-3288

🔗 https://pmbsit.almadinahbogor.sch.id

Website : almadinahbogor.sch.id

 

#sitalmadinahcibinong

#sekolahislamfavorit

#sekolahislamterbaik

#sekolahswastaunggulan

#almadinahberkarakter

#sekolahramahanak

#bergerakjuara

 

 

Brosur
Banner