Logo SDIT AL MADINAH
Login

Bermain itu Belajar

Diterbitkan pada 2026-01-13 - Oleh PIDP, Carmadi, M.Pd.I, Admin Web


Bermain itu Belajar

SDIT Al-Madinah sebagai sekolah unggulan dan ramah anak tetap berkonsentrasi bahwa dunia anak adalah waktunya bermain. Tentunya bermain sekaligus belajar. Oleh karena itu, sekolah menyediakan sarana bermain yang disesuaikan dengan jumlah anak yang ada di sekolah. 

Tidak ada perbedaan pendapat menyangkut kewajiban belajar bagi setiap anak. Tetapi, bagaimanakah dengan bermain? Bukankah bermain merupakan salah satu kebutuhan pokok anak?

Sejak dulu, anak-anak-manusia dan binatang-senantiasa bermain. Pada dinding-dinding kuil dan kuburan orang-orang Mesir kuno ditemukan relief-relief yang menggambarkan anak-anak sedang bermain. Menurut sebagian ahli, bola yang terbuat dari kain atau kulit-kulit binatang merupakan salah satu alat bermain yang tertua. Demikian juga “gasing” yang disebut oleh filosof Plato dalam bukunya Republic, dan dijadikan sebagai simbol kehidupan oleh salah seorang penyair Romawi, “Hidup kita ini,” katanya “bagaikan gasing. Ia ditarik dengan tali namun tetap berputar dan menari.”

Dengan bermain, anak-anak mengekspresikan diri dan gejolak jiwanya. Karena itu, dengan permainan dan alat-alatnya, seseorang dapat mengetahui gejolak serta kecenderungan jiwa anak dan sekaligus dapat mengarahkannya. Dalam ajaran agama, ibu dan bapak dianjurkan untuk sering-sering bermain dengan anak. Nabi Muhammad Saw bersabda: “Siapa yang memiliki anak, maka hendaklah ia memahami, menjadi sahabat, dan teman bermain anaknya.”

Di riwayatkan bahwa Nabi Muhammad Saw pernah berlama-lama sujud dalam shalat karena ketika itu salah seorang cucunya sedang “menunggangi” punggunngnya, dan tidak jarang pula beliau bergegas menyelesaikan shalatnya hanya karena mendengar suara tangis anak.

Bermain atau mengantarkan anak bermain harus dibarengi dengan bimbingan dan pengarahan. Seringkali orang tua yang mengajak anaknya bermain justru mengarahkannya secara tidak sadar kepada hal-hal yang negatif. Kebiasaan semacam ini sejak dahulu hingga sekarang masih sering terjadi.

Diogene Le Cynique, seorang filosof Yunani Kuno (413-323 SM) yang dikenal sangat gandrung mengecam adat kebiasaan masyarakatnya yang buruk, konon, suatu ketika mencambuk seorang ayah sambil berkata: “Aku melihat dan mendengar anakmu culas dan berbohong ketika sedang bermain. Ini diperolehnya darimu atau orang lain, tetapi kamu diam tidak menegurnya.”

Cukup banyak hambatan yang dihadapi oleh orang tua dalam mengarahkan anak melalui permainan. Tidak hanya menyangkut waktu yang hampir habis untuk kesibukan di tempat kerja dan di jalan, tetapi juga “kemampuan” dalam memilih mainan yang sesuai dengan usia dan arah yang dikehendaki untuk anak bermain.

SDIT Al-Madinah sebagai sekolah yang ramah anak, tentunya waktu bermain anak di sekolah tetap dalam pengawasan dan kontrol guru, terlebih untuk anak-anak yang masih di kelas bawah. Di saat waktu istriahat , play ground tempat anak-anak kelas satu dan dua bermain prosotan dan sejenisnya ada pengawasan dari guru yang terjadwal. SDIT Al-Madinah sekolah ramah anak dan bebas bullying. Carmadi, M.Pd.I. Guru SDIT Al-Madinah.



“ Almadinah…Bergerak Juara!

Almadinah...Bergerak juara!

Almadinah...Bermanfaat! Bermartabat! “

Follow instagram kami di @sdit_al_madinah_bogor

Youtube : @almadinahTv


For more info :

📞 0251-8655-777 / 0822-9928-3288

🔗 https://pmbsit.almadinahbogor.sch.id

Website : almadinahbogor.sch.id


Brosur
Banner